5 thoughts on “Tugas_PAI_2

  1. 1.Surat Ali Imran Ayat 159, Arab Latin, Arti, Tafsir dan Kandungan

    Surat Ali Imran ayat 159 adalah ayat tentang akhlak mulia dan musyawarah. Berikut ini arti, tafsir dan kandungan maknanya.

    Surat Ali Imran (آل عمران) merupakan surat madaniyah yang turun setelah Surat Al Anfal. Dinamakan surat Ali Imran karena di dalam surat ini disebutkan kisah keluarga Imran, ayah Maryam, ibu kandung Isa ‘alaihis salam. Bersama surat Al Baqarah, keduanya disebut Az Zahraawan karena kedua surat ini memberi petunjuk bagi pembacanya kepada kebenaran dengan cahaya agung.

    Surat Ali Imran Ayat 159 Beserta Artinya

    Berikut ini Surat Ali Imran Ayat 159 dalam tulisan Arab, tulisan latin dan artinya dalam bahasa Indonesia:

    فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

    (Fabimaa rohmatim minalloohi linta lahum. Walau kunta fadhdhon gholiidhol qolbi lanfadldluu min haulik. Fa’fu ‘anhum wastaghfirlahum wasyaawirhum fil amr. Fa,idzaa azamta fatawakkal ‘alallooh. Innallooha yuhibbul mutawakkiliin)

    Artinya:

    Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.
    2.Asbabun Nuzul
    Ibnu Katsir menjelaskan asbabun nuzul Surat Al Kafirun dalam tafsirnya. Bahwa orang-orang kafir Quraisy pernah mengajak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menyembah berhala-berhala mereka selama satu tahun, lalu mereka akan menyembah Allah selama satu tahun. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan surat ini.
    Ibnu Ishaq meriwayatkan dari Ibnu Abbas terkait asbabun nuzul Surat Al Kafirun ini. Bahwa Walid bin Mughirah, Ash bin Wail, Aswad bin Abdul Muthalib dan Umayyah bin Khalaf menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Mereka mengatakan, “Wahai Muhammad, marilah kami menyembah Tuhan yang kamu sembah dan kamu menyembah Tuhan yang kami sembah. Kita bersama-sama ikut serta dalam perkara ini. Jika ternyata agamamu lebih baik dari agama kami, kami telah ikut serta dan mengambil keuntungan kami dalam agamamu. Jika ternyata agama kami lebih baik dari agamamu, kamu telah ikut serta dan mengambil keuntunganmu dalam agama kami.”
    Penawaran seperti itu adalah penawaran yang bodoh dan konyol. Maka Allah pun menurunkan Surat Al Kafirun sebagai jawaban tegas bahwa Rasulullah berlepas diri dari agama mereka.
    Sayyis Qutb dalam Tafsir Fi Zilalil Quran menjelaskan, bangsa Arab tidak mengingkari adanya Allah. Akan tetapi, mereka tidak mengerti hakikat-Nya sehingga mempersekutukan-Nya. Mereka beribadah kepada berhala yang mereka buat untuk menggambarkan orang shalih atau malaikat yang menjadi perantara mendekatkan diri kepada Allah. Mereka sendiri menganggap malaikat adalah anak perempuan Allah.
    Mereka merasa heran ketika Rasulullah mendakwahkan tauhid, untuk beribadah hanya kepada Allah. Mereka pun menentang dakwah itu dengan berbagai cara. Setelah gagal menghentikan Rasulullah dengan menyakiti beliau, mereka menawarkan harta dan jabatan. Ketika upaya itu juga gagal, mereka mengambil jalan kompromi. Menawarkan kerjasama dengan bersama-sama menyembah Tuhan mereka selama satu tahun, lalu tahun berikutnya menyembah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah pun menurunkan Surat Al Kafirun sebagai jawabannya.
    Asbābun Nuzūl adalah ilmu Al-Qur’an yang membahas mengenai latar belakang atau sebab-sebab suatu atau beberapa ayat al-Qur’an diturunkan. Pada umumnya, Asbabun Nuzul memudahkan para Mufassir untuk menemukan tafsir dan pemahaman suatu ayat dari balik kisah diturunkannya ayat itu.

  2. 1. Ayat ini menjadi dasar dalam mengaruhi kehidupan berbangsa dan beragama. Norma yang terkandung dalam ayat ini sanagt relavan dengan kehidupan masyarakat Indonesia. Sehingga ayat ini mengajarkan kepada kita terhadap nilai-nilai demokrasi.

    Menurut Imam Abu Bakar diambil dari kisah Nabi Muhammad di saat perang badar. Bahwa pada waktu itu, Nabi mengajak Abu Bakar dan Sayyidina Umar bin Khattab untuk bermusyawarah terkait tawanan perang badar.

    Abu Bakar memberikan usulan kepada Nabi Muhammad. Agar para tawanan dikembalikan lagi kepada keluarganya dengan syarat membayar tebusan. Sedangkan usulan Sayyidina Umar agar para tawanan harus dihukum dan yang mengeksekusi keluarganya sendiri.

    Menanggapi usulan dua sahabat, Nabi Muhammad mengalami kesulitan dalam pendapat mana yang mau digunakan. Maka sebab itu turunlah ayat Ali-Imran ayat 159, sehingga Nabi Muhammad mengambil pendapat Abu Bakar shidiq.

    Islam sudah menerapkan prinsip musyawarah dalam sistem pemerintahan

    2. Allah sudah menganjurkan kepada hambanya agar senantiasa memaafkan serta mengutamakan musyawarah dalam mengambil suatu keputusan. Sehingga musyawarah menjadi prinsip dalam mengambil suatu keputusan.
    Ayat ini juga menjelaskan tentang akhlak Nabi Muhammad yang sangat agung. Diantaranya suka musyawarah, pemaaf, lemah lembut, dan sebagainya. Setelah bermusyawarah Nabi Muhammad menghasilkan keputusan, sehingga dilaksanakan dengan dasar tawakal kepada Allah.
    Bagi setiap orang yang bertawakal akan senantiasa di sayangi oleh Allah.
    Bagi setiap orang yang ingin mempunyai hati yang lemah lembut, maka seharusnya minta sama Allah agar selalu mendapatkan rahmatnya.
    Bagi setiap orang yang mempunyai hati yang kasar, maka manusia akan selalu menjauh darinya.

    3.artinya :

    Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.

  3. 1.)فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلْقَلْبِ لَٱنفَضُّوا۟ مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَٱعْفُ عَنْهُمْ وَٱسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى ٱلْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُتَوَكِّلِينَ
    2.)1.Ayat ini menjadi dasar dalam mengaruhi.
    kehidupan berbangsa dan beragama.
    2.Allah sudah menganjurkan kepada hambanya
    agar senantiasa memaafkan serta mengutamakan. musyawarah dalam mengambil suatu keputusan.
    3.Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu
    berlaku lemah lembut terhadap mereka.

  4. • Qur’an Surat Al-imron ayat 159
    akan disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu
    •Asbabun nujumnya
    Asbābun Nuzūl (Arab: اسباب النزول, Sebab-sebab Turunnya (suatu ayat)) adalah ilmu Al-Qur’an yang membahas mengenai latar belakang atau sebab-sebab suatu atau beberapa ayat al-Qur’an diturunkan. … Ibnu Taimiyyah mengemukakan bahwa mengetahui Asbabun Nuzul suatu ayat dapat membantu Mufassir memahami makna ayat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *